Saturday, January 24, 2009

Cerita Mereka: Being Single and Happy

“Gue heran,” kata Tantri sambil menyalakan rokoknya,”kenapa sih orang pada rungsing ama status single gue, sementara gue fine fine aja tuh.” Dia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke atas.

“Yah gue sih pengen merit kadang-kadang. Gue single bukan karena memilih buat itu, tapi karena emang belum ada jodoh,” lanjutnya lagi.

Di usianya yang menjelang 38 tahun, Tantri masih terlihat menikmati kehidupan lajangnya. Menurutnya dia bebas melakukan apapun, tidak perlu laporan kalau mau pergi, tidak ada sms penuh cemburu kalau jalan dengan cowok lain.

Sekarang dia sedang menjalani hubungan friends with priviledge yang biasa dikenal dengan TTM, Teman Tapi Mesra.

“Satu-satunya yang gak bisa bikin gue resmi pacaran ama dia cuma karena beda keyakinan. Gue sih gak masalah, cuma buat dia itu masalah. Jadi ya dijalanin aja.”

Awalnya hubungan seperti itu dirasakan cukup berat buatnya. “Maklum cewek, bawaannya pengen dipastiin aja hahaha,” dia tergelak kemudian mematikan rokoknya di asbak.

“Tapi setelah gue pikir lagi, ternyata yang gue butuhin itu penyaluran rasa. Gue pengen nyayangin dan disayangin orang. Itu aja...”

Jadi status gak perlu nih?

“Yaah.... gak perlu perlu amat lah, asal sama sama seneng aja,” katanya

Trus, bener gak sih soal kepercayaan kalo perempuan yang belum menikah di usia “tua” itu cenderung nyebelin?

“Gak juga lah. Buktinya gue gak hahaha,” dia tergelak.

“No seriously, menurut gue itu tergantung orangnya aja. Dijadiin masalah ato gak kelajangannya itu. Kalo buat dia itu masalah dan dibawa ke pikiran, jelas aja dia jadi cranky,” jelasnya.

Menurut Tantri justru masyarakat di luar yang menciptakan cap negatif itu. Toh buktinya banyak juga perempuan berumah tangga yang lebih cranky daripada perempuan lajang.

“Prewi tuwir kayak gue, walopun gue gak setuju ama sebutan prewinya hahaha, sebenernya sama aja ama perempuan lain. Ada masa menyenangkan, ada masa nyebelin,“ katanya.

Memang tidak dipungkiri dia terkadang mendengar selentingan-selentingan tidak menyenangkan tentang status lajangnya, “tapi gue gak pernah ambil ati bow. Skarang gini, toh gue nikah juga gak bakal nguntungin ato ngerugiin mereka, jadi ngapain gue ambil pusing omongan orang. We can't please them all gitu loh,” ujarnya menutup perbincangan.

Tuesday, January 20, 2009

Cerita Mereka: Saya Akan Berikan Apapun...

“Saya akan berikan apapun untuk bisa meluk dia sekali lagi aja, mbak...”

Kalimat itu terasa menusuk hati, keluar dari mulut Aisyah seorang ibu dengan tiga orang putra yang masih kecil-kecil. Putra pertama bernama berusia 9 tahun, kelas 2 SD dan sedikit terbelakang. Putra kedua berusia 7 tahun, kelas 1 SD. Putranya yang terakhir berusia 1 tahun.

Ayah mereka meninggal tiga bulan lalu karena kecelakaan lalu lintas.

“Terakhir saya liat dia hidup itu sebelum nganterin Ibu saya ke pasar. Eh pulang-pulang malah polisi yang dateng sambil gendong anak saya yang nomer dua, Mukanya baret baret penuh luka.”

Ayah dan anak tersebut mengalami kecelakaan ketika hendak memutar di sebuah U Turn, motornya dihajaroleh sebuah mobil boks perusahaan kurir. Sang ayah langsung tidak sadarkan diri dan koma, sementara sang anak terluka di wajahnya. Kecelakaan itu terjadi di tempat yang hanya berjarak lima menit dari rumah mereka. Untungnya sang anak pintar, dia bisa memberitahukan kepada polisi di mana rumahnya. Maka setelah mengantarkan sang ayah ke rumah sakit terdekat, polisi langsung meluncur ke rumah dengan bimbingan arah dari si bocah.

“Suami saya sempat dirawat di rumah sakit, langsung koma. Hanya semalam, besok paginya sudah gak ada...”

Aisyah hanya bisa menangisi kepergian suaminya tercinta, bingung bagaimana cara menyambung hidup anak-anaknya ke depan nanti.

“Anak-anak sih belum ngerti.. Mereka tahu ayahnya meninggal, tapi belum ngerti meninggal itu gimana. Yang besar dan adiknya masih suka nanyain kok ayahnya tidur lama amat gak bangun-bangun.. Sedih banget kalau mereka nanya kayak gitu..,” kata Aisyah sambil mengelus pipi anak bungsunya yang sedang tertidur pulas, merasa iba karena si anak tidak akan pernah bertemu ayahnya lagi.

Tidak ada tanda-tanda spesial sebelum kecelakaan itu menimpa suaminya. Hanya sejak kelahiran anak bungsu mereka, almarhum suaminya memutuskan untuk mencari pekerjaan di jakarta, setelah selama beberapa tahun menjadi pekerja di Kalimantan. Aisyah mengaku tidak mengetahui dengan jelas apa pekerjaan almarhum suaminya di sana.

“Dia udah sumpah demi Allah kalau uangnya itu halal, saya percaya. Masak suami sendiri gak dipercaya,” jelas Aisyah.

Almarhum Chaidril, suaminya, memutuskan untuk berhenti bekerja di pulau seberang dan mencari pekerjaan di Jakarta, karena merasa berat meninggalkan keluarga yang dicintainya lebih lama lagi.

“Dia orangnya rajin dan gak pernah ngeluh. Kerjaan apa aja selama halal pasti dikerjain. Sementara katanya saya gak usah kerja, biar ngawasin anak-anak aja. Makanya setelah dia gak ada, saya jadi bingung gimana ngasih makan dan nyekolahin mereka. Saya malu numpang terus sama orang tua, sementara mereka juga pas-pasan,” ujar Aisyah.

Sejak menikah Aisyah dan keluarganya masih tinggal di rumah orang tuanya di bilangan Mampang. Ibu Aisyah membuka warung nasi uduk di pagi hari dan kelontong di siang hari, sementara Ayah Aisyah adalah pengemudi ojek.

“Tadinya kami udah rencana mau pindah rumah, udah dapet kontrakan juga, cuma belum sempet kebayar eh udah kejadian begini...,” kata Aisyah. Kedua orang tua Aisyah juga tidak menyetujui bila Aisyah dan anak-anaknya pindah ke rumah lain, apalagi setelah kepergian suaminya.

“Sekarang saya bantu-bantu Ibu di warung, bantu bantu di rumah, dan buka jahitan juga. Yah, meringankan beban orang tua lah, kasian mereka masih dibebanin anak padahal udah tua begitu..”

Menurut Aisyah, dia juga merasa lebih terhibur tinggal di rumah orang tuanya, walaupun banyak kenangan yang mengingatkannya kepada almarhum suaminya.

“Di sini rame, banyak orang. Adik dan abang saya walaupun udah nikah juga masih tinggal di sini. Jadi selalu ada yang nemenin saya. Saya juga ngerasa masih deket ama Bang Chaidril, banyak kenangan di rumah ini..”

Dengan ijasah SMP yang dipegangnya, Aisyah masih merasa kebingungan mencari pekerjaan, apalagi dia tidak punya kemampuan komputer dan bahasa Inggris. satu-satunya harapan adalah dengan keterampilan menjahit yang dia miliki.

“Kadang kita suka gak nganggep sesuatu yang kita punya. Saya sering marah-marah ama bang Chaidril karena hal-hal kecil, sering ngambek juga ama dia. Saya bener-bener gak ngeduga kejadian begini. Kalo aja saya tau bakal begini, saya gak akan pernah marahin dia, ngambekin dia..,” katanya dengan tatapan menerawang.

Kalimat pembuka percakapan kami yang dia ucapkan sebelumnya kembali terngiang di telinga saya...

“Saya akan berikan apapun buat bisa meluk dia sekali lagi aja...”